Comentários do leitor

Hukum komunikasi

por Editoria RVQ (2019-01-23)


Kesimpulan dari dua kisah di atas adalah bahwa perkataan liar yang tak terkontrol yang diterima oleh seseorang akan terus membuatnya tersakiti tiada henti.


Namun, berbeda saat jam digital masjid seseorang berkata-kata bijak, itu akan membuat seseorang akan selalu terkenang-kenang dan dinanti-nanti.


Betapa pentingnya saat kita berkata-kata karena setidaknya ada dua hal penting yang terpengaruh karena kata-kata tersebut.


Hal pertama adalah sebuah hubungan akan menjadi abadi sepan- jang masa jika ucapannya adalah baik dan indah.


Hal kedua adalah sebuah hubungan yang tadinya terjalin baik menjadi porak poranda karena salah satu pihak tidak berkata-kata baik dan cenerung menyakiti.


Begitu pentingnya kita berkata-kata bijak, perlu kita rumuskan bagaimana pola untuk berkata-kata bijak. Bagaimana caranya agar kita mampu berkata-kata bijak saat kita berkomunikasi?


Bagaimana kiat-kiat atau jurus mudah untuk mampu berkata- kata bijak? Semua akan dibahas di bahasan selanjutnya, ayo kita simak bersama. 3.1. Komunikasi Efektif Berkomunikasi tidak sekadar menyampaikan pesan kepada orang yang kita ajak bicara.


Dalam berkomunikasi kita perlu memastikan bahwa pesan yang diterima memiliki kesamaan maksud dan tujuan dengan apa yang ingin kita sampaikan.


Kepastian bahwa pesan tu memiliki kesamaan maksud dan tujuan diperoleh dari respons yang diberikan oleh kawan bicara kita. Dalam berkomunikasi Arief Risman l


ingatlah bahwa yang jam digital masjid kita ajak bicara adalah makhluk yang namanya manusia. Manusia itu memiliki akal, hati, dan organ badan lain ya menunjang seluruh kegiatan sehari-harinya.


Berkomunikasi denga manusia mengharuskan kita untuk juga memperhatikan akal dan budi, serta emosi.


Dengan menyadari hal tersebut perlu diperhatikan beberapa prinsip dalam berkomunikasi sehingga tujuan kita dalam berkomunikasi tercapai ng Dari banyak pendapat pakar komunikasi tentang komunikasi yang efektif,


terdapat satu Hukum Komunikasi Yang Efektif yang akan diambil untuk melengkapi teori dari tema buku ini.


Dalam berkata-kata bijak, tetap harus diupayakan bagaimana caranya agar perkataan bijak itu dapat diterima dengan baik oleh kawan bicara kita. Seolah menjadi tak bermanfaat jika kata-kata bijak yang disampaikan tidak diterima dengan baik oleh pihak yang kita ajak bicara. Bisa saja terjadi,


kita berkata-kata bijak, namun terjadi salah pengertian. Salah pengertian ini malah menimbulkan ketidakharmonisan, kalau sudah begini, maka berkata-kata bijak malah menjadi masalah baru bukannya solusi yang diharapkan sejak awal.


Apalah artinya berkata-kata bijak, jika orang yang mengatakannya dibarengi dengan sikap sombong dan angkuh.


Tentu saja kata-kata bijak yang diucapkan hanya jadi'angin selewat' saja yang melintas di telinga tapi tidak membekas di hati dan pikiran orang yang mendengarnya.


Apalah artinya kata-kata bijak jika diucapkan dengan tidak jelas ketika sampai di telinga orang lain, tentu saja pesan pentingnya tidak akan diterima dengan baik.


gaimana bisa kata-kata bijak itu bergema dalam hati sanubari orang yang mendengarnya jika sehari-hari orang yang mengatakan kata-kata bijak itu ternyata seseorang yang sering melangear Ba aturan hukum.


Untuk menjawab itu semua agar kata-kata bijak memiliki dampak di hati dan pikiran orang orang yang mendengarnya, dibutuhkan sebuah hukum komunikasi yang mengakomodir hal 84 Masih Perlukah Berkata Bjak?


tersebut. Hukum komunikasi tersebut diambil dari sebuah teori komunikasi, The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication.


Hukum komunikasi tersebut terdiri dari 5 prinsip yang disingkat menjadi sebuah kata REACH untuk lebih mudah dalam mengingat dan mengaplikasikannya.